Tentang adab berdoa

image

Teringat akan kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam yang berada dalam kondisi lelah, payah dan kelaparan setelah berlari dari sekelompok orang utusan Fir’aun yang hendak membunuhnya. Setelah jauh ia berlari, sampailah ia di suatu mata air.

Di negeri itu (yang kini kita kenal bernama Madyan), Musa melihat orang berdesakan memberi minum ternak mereka. Sedangkan di satu sisi, ada gadis yang menahan hewan ternaknya agar tak ikut berebut minum. Tak bisa ikut berdesakan.

Meskipun diselimuti kelelahan yang amat sangat, Musa masih menawarkan bantuan kepada gadis tersebut. Karena itulah dirinya mendapat gelar lelaki perkasa. Ya, orang yang masih mau dan mampu menolong disaat dirinya sendiri memerlukan pertolongan adalah orang yang kuat.

Tanpa banyak bicara dan tanpa menunggu ucapan terima kasih, selapas menunaikan tugasnya Musa langsung berlalu dan beristirahat dibawah pohon. Didera rasa lelah yang membuat linu tulangnya dan rasa lapar yang mencekik lambungnya, Musa berdoa

“Rabbii innii lima anzalta ilayya min khairin faqiir. Duhai pencipta, pemelihara, pemberi rizqi, Pengatur urusan, dan Penguasaku, sesungguhnya aku diantara apa yang Kauturunkan diantara kebaikan, amat memerlukan.”

*****

Sesungguhnya meminta apapun, selama dalam hal kebaikan, tak terlarang disisi Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahkan kita dianjurkan untuk banyak meminta. Sebab yang tak pernah meminta kepada Allah akan tergolong pada sifat kesombongan.

“Kita dianjurkan untuk meminta kepada Allah” demikian Dr. ‘Umar Al-Muqbil menafsirkan doa Nabi Musa diatas.

Dalam kondisi tersebut, sebetulnya Musa hendak meminta makanan. Pantas baginya jika dia meminta imbalan makanan atas bantuan yang diberikannya kepada gadis penggembala yang telah ia bantu. Tapi tidak bagi Musa !

Dari kondisi dan doa diatas, musa mengajarkan kepada kita 3 hal. Pertama bahwa hanya Allah yang berhak diminta kedermawan-Nya, dirindu karunia-Nya, dan diharapkan balasan-Nya. Meminta kepada makhluk, yang diperoleh hanyalah kehinaan. Berharap kepada makhluk, yang diperoleh hanyalah kekecewaan.

Apapun permintaan kita, besar maupu kecil, berat maupun ringan, penting ataupun biasa saja, jadikan Allah satu-satunya tempat meminta, tempat bersandar, tempat berlindung, tempat berharap, tempat mengadu, dan tempat meminta pertolongan.

Kedua adalah tentang adab dalam berdoa. Bertatakrama kepada orang yang kita ajak bicara adalah satu hal yang memuliakan diri dan lawan bicara, terlebih bertatakrama kepada Allah dalam berdoa. Kalimat perintah dalam doa dibenarkan oleh para ulama atas hujjah dari Al-Quran dan sunnah. Namun contoh dari beberapa Nabi justru menunjukkan ada yang lebih ahsan dari soal benar tidak benar, yaitu soal layak dan tidak layak, yaitu soal patut dan tidak patut, itulah adab.

Itu pula yang dicontohkan Musa ‘Alaihisalam, dia tidak mengatakan dalam doanya “Ya Allah, berikan .. Ya Allah, turunkan .. Ya Allah, sediakan ..”. Musa menundukkan diri, dan melirih dalam hati “Ya Rabbi, penciptaku, penguasaku, penjamin rizqiku, pemeliharaku, pengatur segala urusanku, sungguh aku .. terhadap apa yang Kauturunkan diantara kebaikan, amat memerlukan”

Ketiga bahwa Allah dengan segala sifat-Nya yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang lebih baik bagi diri ini daripada indera yang sangat terbatas nalarnya. Musa mengajarkan bahwa berdoa bukanlah sarana memberitahu Allah tentang keinginan kita, sebab Dialah Maha Mengetahui. Berdoa adalah kesempatan berbincang mesra dengan Rabb yang Maha Menguasai segala sesuatu, agar Dia meridhai segala yang Dia limpahkan, segala yang Dia ambil, ataupun segala yang Dia simpan untuk kita.

*****

Berlanjut kisah Musa, melihat lelaki yang telah membantunya amat kelelahan, gadis tersebut mengundang Musa untuk berkunjung ke rumahnya. Menyabut undangan tersebut Musa menjawab .. “berjalanlah di belakangku, dan beri isyarat kemana arah yang kita tuju”. Sungguh sebuah sikap sangat menjaga .. baik pandangan maupun sikap berlebihan, terhadap wanita jelita yang asing ketika hendak berjalan berdua.

Sejak hari itu berubahlah hidup Musa. Dari seorang pelarian yang diselimuti ancaman kematian, di rumah bapak tua itu ia dijamu makan, diberi tempat tinggal, ditawari pekerjaan, hingga dinikahkan dengan putri bapak tersebut. Sampai akhirnya mendapat tugas kenabian.

*****

Musa meminta makanan dengan tata krama yang baik kepada Yang Maha Memberi. Musa meyakini bahwa apapun yang dikaruniakan Allah kepadanya adalah lebih baik dari semua dugaan dalam permohonannya. Hingga Allah memberikan kelimpahan karunia yang tak pernah terbayangkan oleh nalarnya.

“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak.” Demikian ucap Umar ibn Al-Khathab.

“Sebab setiap kali Allah mengilhamkan hamba-Nya untuk berdoa, maka Dia sedang berkehendak untuk memberi karunia .. dan yang lebih aku khawatirkan adalah, jika aku tidak berdoa” lanjut Umar.

Betapa sering kita membutuhkan sesuatu, namun lupa melibatkan Allah dalam kebutuhan kita.

*****

“Takkan terasa manisnya kehambaan, hingga kita merasa bahwa bermesra dengan Allah dalam setiap doa adalah lebih penting dari diijabahnya doa tersebut.

Takkan terasa lezatnya ketaatan, hingga kita lebih mencintai Dia yang mengijabah doa kita, dibanding perwujudan dari diijabahnya doa tersebut.”

Salim A. Fillah