RUT-INI-TAS

(sumber : eramadina)
Pekan lalu baru dapet nasihat lagi tentang waktu. Saat itu dibahas lg tentang surat al asr (waktu) dan kali ini jadi menarik karena bahasan selanjutnya adalah niat.

“Perbarui terus niat kita, untuk tetap mengisi waktu-waktu kita dengan hal yang manfaat” begitu kalimat penutup darinya malam itu.

Dan otak sempit ini pun mulai berfikir liar, hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa di beberapa kondisi, rutinitas justru bisa lebih jahat dari waktu luang.

AKTIFITAS TANPA NIAT YANG JELAS

(sumber : pinterest)

Coba menjauh sedikit dari layar hp/laptop kamu. Liat keatas, dan coba renungkan, “pernahkah saya melakukan aktifitas tanpa niat yang jelas ?”

Sebagai contoh aktifitas tanpa niat yang jelas adalah kamu niat mandi janabah, tapi yang kamu lakukan adalah berenang. Loh apa hubungannya ?

Salah satu syarat mandi janabah adalah dengan membasuh semua bagian tubuh dengan air. Betul kan ? Lalu, apakah ketika seseorang berhadas besar, lalu dia berenang, wicis berenang akan membuat masuk seluruh tubuhnya ke kolam renang, ke dalam air. Jika tanpa niat mandi janabah terlebih dulu, dan tanpa menjalani rangkaian tata cara mandi janabah, apakah ia langsung dikategorikan sudah mandi janabah setelah berenang ? Menurutku tidak.

Jadi jelas posisi niat (dan tatacara) disitu. Tanpa niat yang jelas, perbuatan bisa salah judul. Ibarat surat bisa salah alamat, atau bahkan ga pernah terkirim.

Kalo ngambil perumpamaan dari quote diatas. Kapal yang berangkat tanpa tujuan yang jelas, bisa saja ia berangkat, lepas dari dermaga tempat ia bersandar. Tapi akankah ia menepi ? Sampe ke tujuan, alasan dia berangkat ? Atau akankah kapal tsb hanya terombang ambing di tengah laut, dihantam badai, hingga habis seluruh perbekalan, dan entah bagaimana nasib selanjutnya .. Satu yang sama : kapal itu takkan sampai di tujuan.

MENUNTUT ILMU

(sumber : skill4studycampus)

Selanjutnya, secara sadar atau tidak, seringkali hal-hal yang berbau rut-ini-tas seringkali kita jalani tanpa niat yang .. Bahasa keren nya full power.

Mahasiswa bangun pagi, mandi sarapan, berangkat kuliah, duduk di kelas, nyatet, ke perpus, ngerjain tugas, pulang, tidur (yang jelas ini bukan gw banget, haha *maap) .. Padahal kalo dia sadar sesadar-sadarnya, berangkat menuntut ilmu itu adalah salah satu ibadah yang mempermudah dirinya masuk ke dalam surga. Kalo aja dia niatkan kesitu, udah jadi ibadah yang luar biasa tuh tiap hari.

Disisi lain, Rasul kita (SAW) juga menyampaikan bahwa malaikat, dan makhluk-makhluk Allah lainnya senantiasa bertasbih untuk mereka yg menuntut ilmu. Luar biasa bet kan ? Eh tapi yg lg di doain nya malah tidur di kelas, bolos, main game, mikirin gebetan, curi-curi pandang di kelas yang gabungan dengan jurusan lainnya .. Duh omat atuh nak 😦

Satu pesen gw buat yg masih/pengen kuliah lg, cari dan print kedua hadiat diatas di kertas kecil, A5 maybe, jadiin cover binder/notebook kamu. Biar kita selalu inget bahwa betapa mulianya orang-orang yang sedang menuntut ilmu. (Beh, keren bet bahasa gw)

BEGIN WITH DE END IN MIND

Kalimat ini adaah kalimat keren nya Steven Covey di 7 Habits yang menurut gw berhubungan dengan topik kali ini (niat). Sadar atau nggak, besar kecilnya perbuatan sering banget ditentuin dari niatnya.

(sumber : dreamstime.com)

Seorang kakek, menanam biji mangga, setiap hari disiraminya, dirawat dipupuk, ditebangin hama yang mengganggunya. Mungkin 5-10 tahun lagi baru bisa berbuah. Mungkin si kakek ngga akan sempet nikmatin manisnya buah mangga dari pohon tsb. Tapi, katika mulai menanam, si kakek meniatkan bahwa pohon ini untuk anak cucu nya kelak, agar bisa menikmati manisnya buah mangga. Insya Allah ganjaran kebaikannya sudah mulai dicatat sejak pertama biji itu ia selipkan ke dalam tanah sampai kelak pohonnya mati/ditebang/hati kiamat. Bahkan dari setiap orang yang merasakan nikmatnya buah mangga tsb.

Tentu beda catatan kebaikannya dengan orang yang hanya iseng melempar biji mangga yg habis dimakannya ke halaman belakang rumahnya.

Oiya, contoh orang tentang kakek nanem biji mangga ini gw ambil dari kisah kakek gw sendiri. Dulu awalnya nanem di tanah tetangga. Tp alhamdulillah skrg tanahnya udah kebeli. Doain amalan baiknya terus ngalir ke beliau ya. Biar bisa meringankan hisabnya, dan menambah timbangan kebaikannya. Aamiin.

(sumber : http://www.pendletonbuildanddrives.co.uk)

Contoh lain, ada tukang bangunan yang melakulan kegiatan menyusun batako dengan adukan semen, ia lakukan sebatas hanya untuk mendapat upah. Sementara disisi lain, ada yang mengiringi “templokan” semen nya, proses penyusunan setiap batakonya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar .. Kemudian sedari awal ia ikut berinveatasi cita-cita bahwa bangunan yang dibuatnya akan menjadi sekolah, tempat anak-anak dikampungnya menuntut ilmu. Ia pun memimpikan salah satu dari banyak anak yang belajar disitu kelak menjadi insinyur hebat yang akan bermanfaat bagi negeri.

Sungguh kurasa masih akan mengalir pada mereka : tukang bangunan, tukang pasang genteng, arsitek, penjual bahan bangunan .. Amalan-amalan kebaikan yang dilakukan oleh murid-murid yang dulunya belajar di tempat yang mereka bangun, di tempat yang mereka susun dengan niat besar dari awal. Berbeda dengan mereka yang hanya meniatkan sebatas mendapat upah.

Upah nya sama-sama dapat, tapi bonus jariahnya tidak semua orang dapat. Bedanya satu, di niat : “begin with de end in mind

RUT-INI-TAS LEBIH JAHAT DARI WAKTU LUANG

Sengaja gw tulis rutinitas dengan penggalan-penggalan kata, agar tak biasa, agar tak lagi menjadi rutinias, tapi sekarang menjadi rut-ini-tas. Seperti yang gw sampaikan sebelumnya, rut-ini-tas bisa lebih jahat dari waktu luang, ketika tidak ada niatan yang jelas dalam setiap aktifitas yang sifatnya perulangan tersebut (baca : rut-ini-tas)

Di waktu luang kita bisa gunakan untuk beristirahat. Kita diam. Tak habis banyak energi. Tak berkurang sedikitpun uang. Tapi dengan jeda waktu yang sama, ketika kita lakukan sebuah aktifitas yang bertitel rut-ini-tas, waktu terlewatii, energi terkuras, uang pun terpakai. Tapi hasilnya dari sisi ibadah ? Mungkin saja ia bernilai nol besar ketika dilakukan tanpa niat yang jelas. Mungkin, sangat mungkin.

Maka benarlah nasihat dari guruku malam itu : “(1) perbarui terus niat kita, untuk (2) tetap mengisi waktu-waktu kita dengan hal yang manfaat”

Mengisi waktu dengan melakukan hal yang manfaat memang suatu keharusan, kita semua faham itu. Tapi melakukannya tanpa memperbarui niat ? Mungkin kan sama dengan mahasiswa yang pergi pulang kampus kosan tanpa tujuan yang jelas, mungkin kan sama dengan orang yang melempar biji mangga ke halaman tetangga, mungkin jua kan sama dengan tukang bangunan yang menyusun batako sebatas untuk uang. Selesai hanya pada aktifitasnya saja. Tak mendapat jariah luar biasa darinya. Terlewat potensi ganjaran yang kan eksponensial dari aktifitasnya.

Sekali lagi, mari terus perbaiki niat ! Dan jangan sampai kita hanya terjebak RUT-INI-TAS.

Kalo kata Buzz Lightyear “Menuju tak terbatas, dan melampauinya”

(sumber : amazon.com)

Salam

Fuad Assifa

Advertisements